Safety Health & Environment

Memahami Pentingnya menggunakan JSA (Job Safety Anaysis)

K3 adalah suatu kondisi pada pekerja dengan tingkat keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang setinggi-tingginya, jauh dari Penyakit Akibat Kerja  (PAK) dan Kecelakaan Kerja. Agar seorang pekerja tidak mengalami PAK dan kecelakaan kerja, maka perlu diupayakan beberapa tindakan perbaikan antara lain pada lingkungan kerjanya.
Suatu lingkungan kerja nyaman bila lingkungan kerja tersebut, baik secara fisik, kimia dan biologi tidak menimbulkan gangguan kesehatan pekerja. Faktor fisik misalnya suhu tempat kerja, bising, getaran/vibrasi, radiasi maupun pencahayaan baik, aman bagi kesehatan, faktor kimiawi baik untuk proses produksi maupun hasil produksi suatu tempat kerja tidak mengganggu kesehatan pekerja, demikian pula unsur biologi yang ada di tempat kerja serta ada penerapan ergonomi yang baik. Suhu yang tinggi dan kebisingan di tempat kerja benar dapat menyulut terjadinya suatu kecelakaan kerja maupun PAK.

Dengan adanya berbagai faktor yang dapat mengganggu kesehatan kerja, maka perlu dilakukan identifikasi bahaya di tempat kerja. Identifikasi bahaya di tempat kerja perlu dilakukan, kemudian dievaluasi dan bila berada di luar standar yang ada maka dapat dilakukan pengendalian yang memadai di tempat kerja agar aman bagi pekerja. Banyak cara yang dapat dilakukan baik dari sisi mesin, instalasi maupun peralatan yang dipergunakan.

Sumber bahaya di tempat kerja dapat berasal dari bangunan, peralatan, instalasi, bahan produksi, proses produksi, cara kerja maupun lingkungan kerja. Bahaya-bahaya tersebut dapat menimbulkan peledakan, kebakaran, kecelakaan dengan berbagai derajat, juga dapat menimbulkan alergi, kerusakan kulit dan jaringan tubuh, kanker, keracunan, radio aktif maupun kelainan janin.

Sedang cara pengendalian bahaya tersebut dapat secara engineering misalnya mengganti bahan berbahaya dengan yang kurang berbahaya, mengisolasi sumber bahaya, mengadakan ventilasi yang baik; tindakan administratif pada pekerja dan bila tidak berhasil diberikan alat pelindung diri bagi pekerja.

JSA ada 3 macam:

Manfaat Penerapan JSA

  1. Dapat menemukan bahaya fisik yang telah ada pada suatu pekerjaan dan sekaligus dapat menentukan metode yang tepat untuk menghilangkan atau mengendalikan kondisi dan tindakan yang dapat membahayakan;
  2. Dapat menentukan jenis alat perlengkapan pengaman yang tepat sesuai jenis pekerjaan dan dapat untuk menentukan kualifikasi petugas, seperti kondisi kesehatan, keterampilan atau kemampuan khusus yang diperlukan, dan lain-lain;
  3. Dapat memudahkan dalam merumuskan standar pelaksanaan pekerjaan yang selaras dengan tuntutan operasi yang efisien dan aman, termasuk instruksi, pendidikan dan pelatihan;
  4. Penerapan standar pekerjaan yang aman akan meyakinkan setiap pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya secara konsisten dan aman sehingga dapat bekerja lebih produktif;
  5. Rumusan rangkuman JSA dapat digunakan sebagai daftar periksa (check list) pada saat mengevaluasi kinerja K3 di tempat kerja.

Manfaat Penerapan JSA

  1. Menurunkan kecelakaan dan PAK;
  2. Setiap bahaya yang muncul dapat diidentifikasikan dan perusahaan menetapkan pengendalian risiko, sehingga bila penerapannya terkendali, maka hal tersebut dapat menurunkan kecelakaan;
  3. JSA dapat membantu penyelidikan kecelakaan;
  4. Apabila suatu kecelakaan terjadi pada suatu pekerjaan yang telah dianalisis, maka dengan menggunakan hasil analisis tersebut perusahaan dapat mengetahui penyebab timbulnya kecelakaan serta menetapkan perbaikan yang diperlukan. Apabila terdapat bahaya yang belum teridentifikasi, dengan JSA ini dapat diketahui;
  5. JSA dapat diintegrasikan ke dalam sistem mutu dan fungsi produksi pada waktu yang bersamaan.

Manfaat Penerapan JSA

  1. Menjalankan komitmen perusahaan di bidang K3;
  2. Memastikan prosedur kerja yang dilakukan adalah prosedur kerja aman;

Prosedur kerja yang dilakukan merupakan prosedur kerja yang konsisten. Jika seseorang pekerja dipindahkan ke bagian lain/keluar dari tempat kerja/meninggal dunia, maka pekerjaan yang dilakukan tetap berjalan konsisten.

K3 Perkantoran

Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi.

Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan/pekerja di sektor kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya.

Dari hasil penelitian di sarana kesehatan Rumah Sakit, sekitar 1.505 tenaga kerja wanita di Rumah Sakit Paris mengalami gangguan muskuloskeletal (16%) di mana 47% dari gangguan tersebut berupa nyeri di daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5.057 perawat wanita di 18 Rumah Sakit didapatkan 566 perawat wanita adanya hubungan kausal antara pemajanan gas anestesi dengan gejala neoropsikologi antara lain berupa mual, kelelahan, kesemutan, keram pada lengan dan tangan.

Di perkantoran, sebuah studi mengenai bangunan kantor modern di Singapura dilaporkan bahwa 312 responden ditemukan 33% mengalami gejala Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.

HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN PELAKSANAAN K3 PERKANTORAN

Ada beberapa hal penting yang harus mendapatkan perhatian sehubungan dengan pelaksanaan K3 perkantoran, yang pada dasarnya harus memperhatikan 2 (dua) hal yaitu indoor dan outdoor, yang kalau diurai seperti dibawah ini :

  • Konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaannya.
  • Jaringan elektrik dan komunikasi.
  • Kualitas udara.
  • Kualitas pencahayaan.
  • Kebisingan.
  • Display unit (tata ruang dan alat).
  • Hygiene dan sanitasi.
  • Psikososial.
  • Pemeliharaan.
  • penggunaan Komputer.

PERMASALAHAN K3 PERKANTORAN DAN REKOMENDASI

Konstruksi gedung :

  • Disain arsitektur (aspek K3 diperhatikan mulai dari tahap perencanaan).
  • Seleksi material, misalnya tidak menggunakan bahan yang membahayakan seperti asbes dll.
  • Seleksi dekorasi disesuaikan dengan asas tujuannya misalnya penggunaan warna yang disesuaikan dengan kebutuhan.
  • Tanda khusus dengan pewarnaan kontras/kode khusus untuk objek penting seperti perlengkapan alat pemadam kebakaran, tangga, pintu darurat dll. (peta petunjuk pada setiap ruangan/unit kerja/tempat yang strategis misalnya dekat lift dll, lampu darurat menuju exit door).

Kualitas Udara :

  • Kontrol terhadap temperatur ruang dengan memasang termometer ruangan.
  • Kontrol terhadap polusi
  • Pemasangan “Exhaust Fan” (perlindungan terhadap kelembaban udara).
  • Pemasangan stiker, poster “dilarang merokok”.
  • Sistim ventilasi dan pengaturan suhu udara dalam ruang (lokasi udara masuk, ekstraksi udara, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan secara berkala filter AC) minimal setahun sekali, kontrol mikrobiologi serta distribusi udara untuk pencegahan penyakit “Legionairre Diseases “.
  • Kontrol terhadap linkungan (kontrol di dalam/diluar kantor).
  • Misalnya untuk indoor: penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu, bau dll.
  • Outdoor: disain dan konstruksi tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan, dll.
  • Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati.
  • Pemasangan fan di dalam lift.

Kualitas Pencahayaan (penting mengenali jenis cahaya) :

  • Mengembangkan sistim pencahayaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk membantu menyediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. (secara berkala diukur dengan Luxs Meter)
  • Membantu penampilan visual melalui kesesuaian warna, dekorasi dll.
  • Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan kombinasi cahaya (agar tidak terlalu cepat terjadinya kelelahan mata).
  • Perencanaan jendela sehubungan dengan pencahayaan dalam ruang.
  • Penggunaan tirai untuk pengaturan cahaya dengan memperhatikan warna yang digunakan.
  • Penggunaan lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga.

Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) :

Internal

  • * Over voltage
  • * Hubungan pendek
  • * Induksi
  • * Arus berlebih
  • * Korosif kabel
  • * Kebocoran instalasi
  • * Campuran gas eksplosif

Eksternal

  • * Faktor mekanik.
  • * Faktor fisik dan kimia.
  • * Angin dan pencahayaan (cuaca)
  • * Binatang pengerat bisa menyebabkan kerusakan sehingga terjadi hubungan pendek.
  • * Manusia yang lengah terhadap risiko dan SOP.
  • * Bencana alam atau buatan manusia.

Rekomendasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran

  • Penggunaan central stabilizer untuk menghindari over/under voltage.
  • Penggunaan stop kontak yang sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebihan) hal ini untuk menghindari terjadinya hubungan pendek dan kelebihan beban.
  • Pengaturan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel yang sesuai dengan syarat kesehatan dan keselamatan kerja.
  • Perlindungan terhadap kabel dengan menggunakan pipa pelindung.

Kontrol terhadap kebisingan :

  • Idealnya ruang rapat dilengkapi dengan dinding kedap suara.
  • Di depan pintu ruang rapat diberi tanda ” harap tenang, ada rapat “.
  • Dinding isolator khusus untuk ruang genset.
  • Hak-hal lainnya sudah termasuk dalam perencanaan konstruksi gedung dan tata ruang.

Display unit (tata ruang dan letak) :

  • Petunjuk disain interior supaya dapat bekerja fleksibel, fit, luas untuk perubahan posisi, pemeliharaan dan adaptasi.
  • Konsep disain dan dan letak furniture (1 orang/2 m?).
  • Ratio ruang pekerja dan alat kerja mulai dari tahap perencanaan.
  • Perhatikan adanya bahaya radiasi, daerah gelombang elektromagnetik.
  • Ergonomik aspek antara manusia dengan lingkungan kerjanya.
  • Tempat untuk istirahat dan shalat.
  • Pantry dilengkapi dengan lemari dapur.
  • Ruang tempat penampungan arsip sementara.
  • Workshop station (bengkel kerja).

Hygiene dan Sanitasi :

Ruang kerja

  • Memelihara kebersihan ruang dan alat kerja serta alat penunjang kerja.
  • Secara periodik peralatan/penunjang kerja perlu di up grade.

Toilet/Kamar mandi

  • Disediakan tempat cuci tangan dan sabun cair.
  • Membuat petunjuk-petunjuk mengenai penggunaan closet duduk, larangan berupa gambar dll.
  • Penyediaan bak sampah yang tertutup.
  • Lantai kamar mandi diusahakan tidak licin.

Kantin

  • Memperhatikan personal hygiene bagi pramusaji (penggunaan tutup kepala, celemek, sarung tangan dll).
  • Penyediaan air mengalir dan sabun cair.
  • Lantai tetap terpelihara.
  • Penyediaan makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Pengolahannya tidak menggunakan minyak goreng secara berulang.
  • Penyediaan bak sampah yang tertutup.
  • Secara umum di setiap unit kerja dibuat poster yang berhubungan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kerja.

Psikososial

  • Petugas keamanan ditiap lantai.
  • Reporting system (komunikasi) ke satuan pengamanan.
  • Mencegah budaya kekerasan ditempat kerja yang disebabkan oleh :
  1. Budaya nrimo.
  2. Sistem pelaporan macet.
  3. Ketakutan melaporkan.
  4. Tidak tertarik/cuek dengan lingkungan sekitar.
  • Semua hal diatas dapat diatasi melalui pembinaan mental dan spiritual secara berkala minimal sebulan sekali.
  • Penegakan disiplin ditempat kerja.
  • Olah raga di tempat kerja, sebelum memulai kerja.
  • Menggalakkan olah raga setiap jumat.

Pemeliharaan

  • Melakukan walk through survey tiap bulan/triwulan atau semester, dengan memperhitungkan risiko berdasarkan faktor-faktor konsekuensi, pajanan dan kemungkinan terjadinya.
  • Melakukan corrective action apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan.
  • Pelatihan tanggap darurat secara periodik bagi pegawai.
  • Pelatihan investigasi terhadap kemungkinan bahaya bom/kebakaran/demostrasi/ bencana alam serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) bagi satuan pengaman.

Aspek K3 perkantoran (tentang penggunaan komputer)

  • Pergunakan komputer secara sehat, benar dan nyaman :
  • Hal-hal yang harus diperhatikan :
  • Memanfaatkan kesepuluh jari.
  • Istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
  • Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
  • Lakukan peregangan.
  • Sudut lampu 45 derajat.
  • Hindari cahaya yang menyilaukan, cahaya datang harus dari belakang.
  • Sudut pandang 15 derajat, jarak layar dengan mata 30 – 50 cm.
  • Kursi ergonomis (adjusted chair).
  • Jarak meja dengan paha 20 cm
  • Senam waktu istirahat.

Rekomendasi untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran

  • Perlu membuat leaflet/poster yang berhubungan dengan penggunaan komputer disetiap unit kerja.
  • Mengusulkan pada Pusat Promosi Kesehatan untuk membuat poster/leaflet.
  • Penggunaan komputer yang bebas radiasi (Liquor Crystal Display).

PENUTUP

Dalam pelaksanaan K3 perkantoran perlu memperhatikan 2(dua) hal penting yakni indoor dan outdoor. Baik perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, display unit (tata ruang dan alat), hygiene dan sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.

Konsep 5R

Housekeeping

5R merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, dan tertib, maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan, dan dengan demikian 4 bidang sasaran pokok industri, yaitu efisiensi, produktivitas, kualitas, dan keselamatan kerja dapat lebih mudah dicapai. Konsep 5R ini diadaptasi dari program 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) yang dikembangkan di Jepang dan sudah digunakan oleh banyak negara di seluruh penjuru dunia

RINGKAS

Prinsip RINGKAS adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, serta bagaimana cara menyimpan supaya dapat mudah diakses terbukti sangat berguna bagi sebuah perusahaan.

Langkah melakukan RINGKAS :

1. Cek-barang yang berada di area masing-masing.

2. Tetapkan kategori barang-barang yang digunakan dan yang tidak digunakan.

3. Beri label warna merah untuk barang yang tidak digunakan

4. Siapkan tempat untuk menyimpan / membuang /memusnahkan barang-barang yang tidak digunakan.

5. Pindahkan barangbarang yang berlabel merah ke tempat yang telah ditentukan.

RAPI

Prinsip RAPI adalah menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah hal mengenai sebagaimana cepat kita meletakkan barang dan mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan mudah. Perusahaan tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan dimana benda-benda harus diletakkan untuk mempercepat waktu untuk memperoleh barang tersebut.

Langkah melakukan RAPI :

1. Rancang metode penempatan barang yang diperlukan, sehingga mudah didapatkan saat dibutuhkan

2. Tempatkan barang-barang yang diperlukan ke tempat yang telah dirancang dan disediakan

3. Beri label / identifikasi untuk mempermudah penggunaan maupun pengembalian ke tempat semula.

RESIK

Prinsip RESIK adalah membersihkan tempat/lingkungan kerja, mesin/peralatan dan barang-barang agar tidak terdapat debu dan kotoran. Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang dari CEO hingga pada tingkat office boy.

Langkah melakukan RESIK :

1. Penyediaan sarana kebersihan,

2. Pembersihan tempat kerja,

3. Peremajaan tempat kerja, dan

4. Pelestarian RESIK.

RAWAT

Prinsip RAWAT adalah mempertahankan hasil yang telash dicapai pada 3R sebelumnya dengan membakukannya (standardisasi).

Langkah melakukan RAWAT :

1. Tetapkan standar kebersihan, penempatan, penataan

2. Komunikasikan ke setiap karyawan yang sedang bekerja di tempat kerja

RAJIN

Prinsip RAJIN adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. RAJIN di tempat kerja berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sduah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip RAJIN di tempat kerja adalah “LAKUKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN DAN JANGAN MELAKUKAN APA YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN”

Langkah melakukan RAJIN :

1. Target bersama,

2. Teladan atasan

3. Hubungan/komunikasi di lingkungan kerja

4. Kesempatan belajar

Kenali Bahaya & Gunakan APD

Kenali Bahaya & Gunakan APD
Banyak kecelakaan terjadi akibat lemahnya kemampuan dan pengetahuan pekerja untuk mengenali bahaya seawal mungkin dan kemudian mengambil tindakan pencegahan. Setiap karyawan harus mengambil tindakan yang sesuai terhadap resiko yang dijumpai. Dengan mengawasi diri sendiri dan rekan kerja, mereka dapat mencegah digunakannya cara yang berbahaya untuk menyelesaikan pekerjaannya sesegera mungkin. Manajemen harus memberikan dukungan, dengan bertanggung jawab untuk membuat suasana yang memungkinkan terbentuknya budaya K3, dan dengan mempersyaratkan pekerja untuk bekerja dengan aman serta mendukung sistem kerja yang dapat membantu mereka untuk bekerja dengan aman.

Ada enam langkah yang diperlukan bagi seseorang untuk bekerja dengan aman :
• Rasakan suasana bahaya, Dapatkah anda lihat, rasa atau dengar ?
• Ketahuilah bahaya, Apakah anda mengerti bagaimana bahaya dari pekerjaan itu ?
• Rencanakan tindakan anda apa yang akan anda lakukan ?
• Lakukan cara terbaik apakah anda melakukan yang terbaik ?
• Pelihara cara tersebut agar berjalan, Bagaimana anda memiharanya ?
• Lihat, bicara dan dengarkan setiap masukan, Bagaimana kita membuatnya lebih baik ?

Rasakan
Jika seseorang tidak dapat merasakan bahaya, maka dia tidak akan bertindak apapun. Bagaimana cara kita mengenali bahaya ? Selain terlihat, bahaya juga dapat kita rasakan melalui cara lain. Mendengar sama pentingnya jika kita ingin terhindar tertabrak kendaraan dari belakang. Penciuman dapat mengingatkan kita adanya gas berbahaya di udara yang mungkin saja beracun atau dapat meledak. Perasaan adanya getaran yang tidak biasa juga merupakan peringatan yang berguna. Belajar untuk mengenali bahaya umumnya selalu diabaikan, terutama bagi mereka yang telah memiliki pengalaman kerja, tetapi akan lebih baik jika kita memastikan apakah setiap pekerja dapat mengidentifikasi bahaya yang mengancam dirinya sebelum mereka mulai bekerja.

Ketahui
Jika anda telah merasakan bahaya belum berarti anda dapat mengetahui resiko bahaya itu. Langkah yang penting adalah bukan hanya dengan melihat bahaya ditempat kerja, tetapi juga mengenali potensi bahayanya. Orang dapat terbiasa pada bahaya yang dijumpai setiap hari dan lama kelamaan akan melupakan resikonya. Memahami bahaya akan menyebabkan kita peduli terhdapatnya memikirkan keparahan akibat bahaya akan membuat kita ingin menghindarinya. Mengetahui bahaya memang membutuhkan peraasaan tetapi selanjutnya tidak mudah karena anda harus tahu apa arti bahaya tersebut. Anda harus belajar untuk selalu khawatir meskipun anda tidak mendapatkan kecelakaan.

Rencanakan
Memahami bahaya yang anda lihat hanyalah langkah awal. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang akan anda lakukan? Jawaban “berhati-hati” kurang memadai karena berhati-hati memerlukan keahlian yang harus dipelajari.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah :
• Dapatkah kita menghindari semua bahaya tersebut ?
• Dapatkah kita mengisolasi bahaya atau menggunakan APD ?
• Haruskah kita menyingkirkan bahaya tersebut ?

Buatlah semacam kumpulan cara yang dapat kita pakai (gunakan hirarki kontrol). Berkerja dengan resiko bahaya mengharuskan kita memilih cara yang terbaik, mulai dari menghindari bahaya tersebut sampai bekerja dengan sangat berhati-hati. Peringatan akan adanya bahaya dan menyiapkan informasi K3 yang memadai adalah sarana penting untuk memastikan rencana terbaik anda akan berjalan dengan aman.

Lakukan
Setelah anda menetapkan rencana yang efektif, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memastikannya tetap berjalan ? Langkah pertama adalah buatlah situasi kerja yang dapat mempermudah pelaksanaanya dan sulit untuk menolaknya.
Penting untuk dimengerti apakah masalah yang akan muncul adalah masalah organisasi atau individu pekerja. Masukan dari pengawas kerja dan dari pekerja itu sendiri merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan ditindaklanjuti baik oleh pekerja, pengawas maupun manajemen.

Memeliharanya
Salah satu masalah terbesar adalah memastikan apakah pekerja telah menjadikan K3 sebagai budaya yang berkelanjutan. Membentuk suatu budaya sebenarnya mudah tapi sulit. Membuat suatu program untuk memelihara budaya yang baik adalah dengan membuatnya mudah dilakukan.

Lihat, Bicara dan Dengarkan
Tidak ada orang yang dapat mengatur dirinya untuk bekerja dengan aman setiap saat. Biarpun seseorang memiliki perhatian K3 yang tinggi, mereka tetap saja dapat melakukan tindakan tidak aman, karena setiap manusia pasti dapat melakukan kesalahan. Terkadang kita menyadari kalau kita salah pada saat kesalahan itu telah terjadi, kecuali ada yang mengingatkan kita pada saat melakukan kesalahan tersebut. Kita harus mengingatkan rekan kita ketika kita melihat mereka melakukan kesalahan. Kembangkanlah kemampuan kita dalam meningkatkan rekan kerja dan dengarkan ide ide merekan akan K3

“Sebelum memulai pekerjaan, kenali bahaya yang terkait, sehingga anda dapat bekerja dengan aman. Pastikan andan menggunakan alat pelindung diri ( APD ) yang sesuai.”

PIRAMIDA KASUS KECELAKAAN

Dari berbagai kasus kecelakaan kerja yang telah dilaporkan, para ahli keselamatan kerja kemudian melakukan penyelidikan dan selanjutnya berkesimpulan bahwa suatu kecelakaan yang berakibat fatal biasanya terjadi tidak begitu saja datang dengan tiba-tiba. Ternyata kasus kecelakaan mempunyai bentuk seperti piramida. Suatu kejadian kecelakaan fatal , biasanya didahului dengan adanya 10 kali kecelakaan ringan. Dan 10 kecelakaan ringan itupun sebelumnya juga didahului oleh adanya 30 kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan (equipment damage) . Sedangkan dari 30 kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan muncul setelah andanya 600 kejadian nyaris celaka (near miss) . Near miss ini sendiri terjadi karena adanya 10.000 sumber bahaya yang ada di sekitar pekerja .

Bilamana Piramida kecelakaan kita gambarkan sebagai suatu bangunan, maka lantai dasar dari piramida tersebut adalah 10.000 sumber bahaya. Lalu lantai kedua adalah 600 kejadian nyaris celaka , lantai ketiga adalah 30 kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat, lantai keempat 10 kecelakaan ringan dan lantai teratas adalah 1 kecelakaan fatal . Pola perbandingan rumus piramida itu adalah 1 : 10 : 30 : 600 : 10.000 .

Dengan adanya rumus piramida kecelakaan ini, para ahli keselamatan kerja berpendapat bahwa puncak daripada piramida tersebut dapat dihilangkan dengan cara mengurangi atau menghilangkan beberapa kasus kecelakaan yang terjadi sebelumnya atau yang berada di bawahnya. Dengan kata lain, bila kita hilangkan semua kasus nyaris celaka maka bentuk bangunan piramida hanya sampai pada lantai keempat saja. Atau bilamana kita kurangi angka kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan dari angka 30 menjadi 20, maka kecelakaan ringan tidak akan mencapai angka 10 . Dan kecelakaan ringan yang tidak mencapai angka 10 ini maka tidak akan menjadikan munculnya 1 kejadian kecelakaan fatal.

Belajar dari piramida kecelakaan , kemudian pemerintah dan juga pimpinan berbagai perusahaan membuat suatu aturan keselamatan kerja untuk melindungi setiap warga negaranya atau para pekerjanya agar terhindar dari suatu resiko akibat adanya sesuatu kegiatan atau kondisi yang dapat menimbulkan bahaya. Di sekitar lokasi kerja kitapun saat ini telah tercatat beragam sumber bahaya. Namun kita tak perlu cemas, karena kita telah melakukan survey sumber bahaya atau Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko. Tempat-tempat kerja yang sebelumnya menunjukkan angka resiko tinggi telah dikendalikan dengan pemakaian APD, prosedur kerja dan lain-lain.

Kembali kepada diri kita sendiri , marilah kita bekerja dengan selalu mentaati prosedur dan peraturan kerja yang telah dibuat . Karena beberapa contoh kecelakaan fatal akibat melanggar aturan sering kita dengar baik melalui berita yang disiarkan oleh TV maupun Koran . Sebagai contoh kecelakaan lalu lintas disaat lebaran dimana hampir semua penumpang kendaraan kijang tewas setelah sebelumnya tertabrak oleh kereta api. Sebenarnya kecelakaan tersebut dapat dihindari karena di perlintasan kereta api tersebut telah terpasang rambu “STOP”. Tapi rupanya si pengemudi kijang tersebut tidak mau berhenti di rambu stop dan melanggar rambu tersebut . Kemudian dalam kecelakaan pesawat Lion Air di bandara Solo, sebenarnya banyaknya penumpang tewas atau terluka adalah karena adanya kebiasaan penumpang yang tidak memakai seat belt atau melepas seat belt ketika pesawat sedang melakukan pendaratan . Atau pula adanya penumpang pesawat yang kemungkinan menggunakan HP atau peralatan elektronik lain disaat pesawat belum berhenti dengan sempurna. Padahal semua peraturan tersebut dibuat adalah untuk melindungi para penumpang pesawat dan selalu disampaikan oleh pramugari.
Marilah kita sadari pentingnya suatu peraturan keselamatan kerja , sebelum kecelakaan menimpa sanak keluarga atau kita sendiri .

PERATURAN DIBUAT TIDAK UNTUK MENGHAMBAT PEKERJAAN ANDA, TAPI UNTUK MELINDUNGI ANDA DARI MARA BAHAYA

BEKERJA DILINGKUNGAN BERBAHAYA

Beberapa hal yang harus diketahui bila anda bekerja didaerah / dilingkungan berbahaya antara lain :

  1. Adanya sumber – sumber bahaya yang mungkin timbul dari aktivits pekerjaan  yang anda lakukan.
  2. Prosedure kerja aman didaerah berbahaya .
  3. Sarana pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) bila terjadi accident.

Kewajiban atasan / pimpinan untuk pekerjaan didaerah berbahaya

  • Menjelaskan kepada tenaga kerja tentang kondisi – kondisi berbahaya dan penanggulangannya.
  • Selalu menyediakan dan mengingatkan tenaga kerja akan pentingnya alat pelindung diri untuk pekerjaan berbahaya tersebut.
  • Menjelaskan kepada tenaga kerja tentang cara – cara dan sikap yang aman dan benar dalam peleksanaan pekerjaan.

Yang termasuk bekerja didaerah berbahaya disini adalah :

•      Bekerja di ketinggian

•      Bekerja di ruang terbatas

•      Bekerja di Dekat Daerah Peledakan

•      Bekerja di Dekat Dinding Pit

•      Bekerja di Dekat Air

•      Bekerja Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

•      Bekerja di dekat conveyor dan benda berputar lainnya

•      Bekerja dengan bejana / silinder bertekanan

Sehubungan dengan bekerja didaerah berbahaya merupakan pekerjaan yang beriko tinggi maka sebaiknya sebelum melaksanakan pekerjaan agar diberikan dulu Safety Talk kurang lebih 10 menit agar aman dan selamat.

Bahaya lampu neon(lampu tabung) Tubelamp

Selama ini pemerintah kurang mensosialisasikan bahaya lampu TL atau yang sering kita sebut lampu “neon”. Masalahnya lampu hemat energi yang selama ini digalakkan oleh pemerintah tidak dibarengi oleh informasi penting mengenai bagaimana mengelola limbah lampu TL. Padahal setidaknya sekali dalam setahun kita mengganti lampu TL di rumah kita, apakah itu karena sudah rusak (akibat bocor) atau karena pecah (nah ini lebih berbahaya).

Lampu TL mengandung sampai 5 miligram MERCURY (dalam bentuk uap atau bubuk).Uap raksa ini menkonversi energi listrik menjadi cahaya ultraviolet sehingga substansi fosfor pada tabung menjadi berpendar.

nilah bedanya lampu pijar dan lampu TL kalau lampu pijar (bohlam) menyala karena adanya tahanan di kumparan tungstennya tetapi kalau lampu TL itu menyala karena BERPENDAR. Beda lo antara PIJAR dan BERPENDAR? untuk berpendar hanya membutuhkan sedikit energi, makanya lampu TL wattnya kecil.

Sudah tahu dong kalau beberapa miligram Mercury/ Uap Raksa saja bisa meracuni metabolisme tubuh manusia, apalagi bila terkespos pada anak-anak bisa menurunkan IQ dan berdampak panjang pada usia lanjut. Uap raksa ini adalah neurotoksin/racun yang sangat berbahaya dan berakibat fatal pada otak dan ginjal.

Pemerintah Amerika beragumen penggunaan lampu TL dapat menghemat energi 2/3 pembangkit listriknya. Cukup signifikan memang dibanding dengan penggunaan lampu pijar yang menkonsumsi banyak daya. Lampu TL sampai saat ini masih menggunakan Mercury karena memang belum ada pengganti sebaik mercury.

Sekarang bagaimana bila kita tidak sengaja memecahkan lampu TL dalam suatu ruangan? berikut ada beberapa langkah yang diadopsi oleh EPA (Agen Lingkungan Amerika):

1.Sebelum membersihkan buka semua ventilasi ruangan (jendela, pintu) dan tinggalkan ruangan paling tidak 15 menit.

2.Matikan semua sistem ventilasi yang menggunakan kipas termasuk AC.

3.Bila lampu pecah di permukaan seperti lantai, ambilah pecahan kaca menggunakan kertas yang agak kaku atau karton dan tempatkan di kantong plastik.

4. Gunakan selotip atau isolasi untuk mengambil sisa2 remah2 kaca.

5.Seka lantai dengan lap basah dan buang di kantong plastik.

6.Jangan sekali2 menggunakan sapu atau vacuum cleaner untuk membersihkan pecahan kaca, karena akan memperluas sebaran debu serbuk merkuri.

7. Segera buang kantong plastik yang tutup rapat dengan membuangnya sejauh mungkin. (Kalo diluar negeri pembuangan sampah khususnya limbah lampu TL diatur secara ketat, bahkan ada recyling center khusus lampu TL ini)

8. Cuci tangan anda.

Kabar baiknya Lampu TL akan segera diganti dengan Lampu LED, karena lampu LED ini bebas dari Merkuri dan bahkan lebih hemat dari TL. Lampu LED sudah banyak beredar di pasaran untuk kebutuhan lampu senter dan lampu Emergency.

TANYA – JAWAB SEPUTAR OHSAS

TANYA – JAWAB  SEPUTAR   OHSAS

  1. Apakah yang dimaksud dengan OHSAS dan SMK3?

Jawab :

–         OHSAS adalah suatu sistem pengkajian yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan  K3L di tempat kerja/perusahaan.

–         SMK3 adalah  suatu sistem manajemen mengenai SHE (keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan) yang diterapkan di tempat kerja/perusahaan.

  1. Apakah yang dimaksud dengan Kebijakan K3L (SHE Policy)?

Jawab :

Kebijakan K3L adalah komitmen manajemen/pengusaha mengenai pelaksanaan K3L di tempat kerja/perusahaan dalam bentuk tertulis dan ditandatangani oleh manajemen tertinggi.

  1. Apakah yang dimaksud dengan P2K3 / SHE Committee?

Jawab :

P2K3/SHE Committee (Panitia Pembina K3) adalah suatu wadah organisasi dalam perusahaan yang berfungsi sebagai penghubung antara pihak menajemen perusahaan dan pekerja mengenai masalah K3.

  1. Jika terjadi kecelakaan, bagaimana cara menangani dan melaporkannya?

Jawab :

Jika terjadi kecelakaan, berikan pertolongan pertama yang diperlukan korban kecelakaan, kemudian laporkan kepada Supervisor/SHE coordinator.

  1. Bagaimana cara menangani dan melaporkan keadaan darurat kebakaran?

Jawab :

Jika terjadi keadaan darurat kebakaran, padamkan api menggunakan APAR yang terdekat dengan sumber kebakaran sambil berteriak “KEBAKARAN…KEBAKARAN…KEBAKARAN…!”, jika api tidak padam, segera hubungi Koordinator TKTD di area tersebut.

  1. Apa yang dimaksud dengan IBPR?

Jawab :

IBPR adalah suatu metode yang digunakan di PT. Trakindo untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko dari bahaya yang ada pada suatu aktivitas kerja.

  1. Apa yang dimaksud dengan SHE manual?

Jawab :

SHE manual adalah pedoman umum mengenai SHE/K3L yang diterapkan diperusahaan

  1. Apa saja job deskripsi anda yang terkait dengan SHE?

Jawab :

Sebutkan pekerjaan yang anda lakukan yang ada hubungannya dengan SHE

Contoh : – Anggota satgas TKTD

– Tim penyusun IBPR, dll

  1. Apa yang anda ketahui mengenai UU No.1 tahun 1970, tentang apa?

Jawab :

UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah induk dari peraturan mengenai K3 di industri.

10.  Dimana letak emergency exit dan assembly point di area anda bekerja?

Jawab :

Lihat lay_out Emergency Route

11.  Dimana letak APAR, Hydrant, Kotak P3K yang terdekat dengan area kerja anda?

Jawab :

Lihat area kerja anda.

12.  Siapa anggota satgas tim kesiapsiagaan tanggap darurat (TKTD) di tempat anda?

Jawab :

Lihat struktur Organisasi TKTD

–         Koordinator TKTD Umum : Momon S. Maderoni

–         Koordinator TKTD Workshop Area : Dumoly Tambunan

–         Koordinator TKTD Warehouse/SOS Area : Romlan Mudjiono

–         Koordinator TKTD Building HO/Transport Area : Uye Warliman

13.  Sebutkan No.telpon/extention yang harus anda hubungi jika terjadi keadaan darurat!

Jawab :

Hubungi koordibator TKTD di area anda (Lihat daftar Emergency call number)

14.  Instruksi kerja / SOP yang ada di tempat kerja anda?

Jawab :

Ada SOP pada setiap aktivitas yang anda lakukan, tanyakan kepada supervisor anda.

15.  Program K3L/SHE apa saja yang telah dilaksanakan di PT. Trakindo?

Jawab :

–         IBPR

–         Safety Talk (setiap Jumat pagi)

–         Senam aerobik

–         Training safety

–         Latihan simulasi kebakaran

–     dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s